Jumat, 15 Juli 2011

Etika dan Filsafat Kepemimpinan Publik (Rizki Amelia Septanti)


ETIKA DAN FILSAFAT KEPEMIMPINAN PELAYANAN PUBLIK
1.)    Manusia adalah mahluk sosial yang diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan sempurna tanpa kekurangna satu apapun dibandingkan dengan mahluk lain. Dalam kehidupan sosial inilah, manusia menggabungkan dirinya dengan kelompok agar tercipta sutau hubungan saling ketergantungnan antara yang satu dengan yang lain. Penggabungan diri ke dalam suatu organisasi menjadi suatu kewajiban baik itu dilakukan secara sadar maupun tidak, karena manusia dalam menjalani hidup tidak lepas dari satu masalah apapun. Dalam pemecahan masalah manusia membutuhkan dukungan agar masalah memiliki ending atau berakhir sesuai harapan. Dalam organisasi kehidupan pasti mempunyai pemimpin yang mengarahkan dam memotivasi followernya dalam bebagai hal. Ketika terjadi sesuatu pada bawahan maka leader tidak serta merta lepas tangan atau memarahi bawahan, tetapi dengan menggunakan fitrahnyalah berupa IQ( akal) seorang pemimpin mencoba membantu memecahkan masalahnya (bawahan) dan ditambah dengan  menggunakan EQ (kesabaran) untuk mengantisipasi dan menekan akan timbulnya masalah kedua dan juga memberikan motivasi kepada bawahan kemudian penggunaan SQ untuk menjernihkan dan memadukan antara IQ dan EQ agar tidak bertolak belakang. Apabila pemimpin dapat menggunakan ketiga hal tersebut dengan baik maka akan tercipta suatu kepemimpinan yang efektif dan terciptalah masyarakat madani.
(Bahan Kuliah Etika dan Filsafat Kepemimpinan)
2.)    Mahasiswa adalah masyarakat ilmiah yang menurut TRI DARMA PERGURUAN TINGGI disebutkan bahwa nantinya akan melakukan suatu pengabdian dalam masyarakat. Berhubungan dengan agen perubahan yang nantinya akan dicapai sebagai gelar oleh mahasiswa ketika melakukan pengabdian tersebut. Jiwa pemimpin yang seharusnya diterapkan sejak saat ini akan menjadi modal utama untuk mencapai suatu hidup yang sejahtera (baik bagi kita maupun orang lain). Oleh karenanya, dalam belajar menjadi seorang pemimpin yang baik, maka seorang mahasiswa patut mengerti mana yang salah dan yang benar. Dengan menerapkan pembelajaran filsafat dalam kehidupan kita. Maka kita akan tahu cara membedakan yang salah dan yang benar. Implementasi pembelajaran filsafat dibutuhkan oleh setiap manusia untuk membantu menunjang fungsi sebagai calon pemimpin dimasa depan. Mempelajari filasafat pun dibutuhkan untuk membangun suatu good governance atau pemirantahan yang baik agar tidak terjadi keimpangna dalam memutuskan hal penting.
(Bahan Kuliah Etika dan Filsafat Kepemimpinan)
4.)    Filsafat merupakan suatu cara berpikir secara mendalam untuk mencari kebenaran yang hakiki. Filsafat membuka pemikiran manusia yang paling dalam. Jadi manusia didorongkan untuk menggunakan hati dalam memutuskan suatu masalah. Oleh karena itu. Mahasiswa dan manusia pada umunya, didorong untuk berpikir secara filsafat agar kritis dan rasional dalam menganalisa masalah atau realita yang ada. “ Manusia hidup harus berilmu”(Sugeng Rusmiwari), seperti kalimat itulah mengapa manusia dianjurkan untuk berfilsafat. Dengan melakukan pengukuran kebenaran, maka manusia akan mengetahui seberapa tolak ukur kemutlakan dalam hidup bermasyarakat. Manusia menggunakan pola pikir filsafat dalam kehidupan sehari-hari yaitu dengan tujuan untuk berilmu. Karena ilmu menuntu manusia untuk bersikap sebijaksana mungkin. Dengan alasan itulah manusia (mahasiswa) membutuhkan suatu pembelajaran filsafat.
(Berpikir Filsafat,24 maret 2011)
7.)    Pembinaan pendidikan sebagai seorang pemimpin dibutuhkan untuk membangun pola pikir (mindset) mahasiswa dalam peran mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change). Membangun pola pikir ini dapat dilakukan melalui proses belajar mengajar dan dapat dibudayakan agar tidak berhenti ketika proses itu saja. Terdengar dalam salah satu universitas di Indonesia bahwa terdapat suatu sistem pembinaan pendidikan yang diberikan kepada mahasiswa agar tercipta suatu mindset seorang leader dan dapat membiasakan diri sebagai seorang leader. Dalam mempelajari dan merubah polapikir ini akan membuat mahasiswa mampu membedakan mana yang benar dna yang salah dalam penyelipan materi filsafat. Ketika pola pikir telah tersetting maka akan merasa memiliki suatu tanggung jawab yang lebih yang akan terbiasa dalam kehidupan selanjutnya.
10.) Manajemen adalah mengerjakan hal-hal dengan benar, sedangkan kepemimpinan adalah melakukan hal-hal yang benar, dan itu didikuti dengan banyak faktor. Kepemimpinan bukan sekedar kepribadian yang memikat, bukan pula kemampuan berteman atau mempengaruhi orang lain. Dalam menciptakan kepemimpinan yang baik dapat di lihat dari dua sisi yaitu proses dan hasil. Dalam menciptakan suatu hasil yang baik maka dibutuhkan proses yang cukup panjang. Dalam setiap perkembangan proseslah yang harus diutamakan, sebab dari proses itu akan tumbuh suatu pemikiran baru yang akan muncul secara coninue  (berkelanjutan) dan hasil dapat di nomor duakan sebab ukuran kesuksesan bukan dari hasil saja namun proses terutama. Memang benar bahwa hasil merupakan penggambaran keberhasilan, namun penempatan proses diatas hasil akan menjadi suatu sistem perkembangan yang baik dalam mengelola organisasi atau menciptakan good governance.
( Menjadi Pemimpin Yang Baik)
11.) “Untuk mewujudkan kesejahteraan umum supaya berkehidupan kebangsaaan yang bebas” merupaka salah satu kalimat yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Pelaksanaan dan perwujudan kesejahteraan melalui pembangunan dari bebagai pelosok tanah air. Untuk mewujudkan hal ini  dibutuhkan seorang leader yang sangat berkompeten dan follower yang berkompeten dalam masing-masing bidang. Kekuatan atau daya tentu dibuthkan didalamnya. Menurut John French dan Bertran Raven, daya/power diperoleh dari berbagai hal yaitu legitimate power (pengangkatan),coersive power (kekerasan), expert power (keahlian), reward power (pemberian), preference power( daya tarik). Dari daya tersebut maka leader maupun follower akan mengetahui dan mengerjakan job disc sesuai dengan posisi masing-masing.
(Ilmu dan Sistem Pemerintahan Indonesia dan Bahan Kuliah Pengantar Ilmu Adminsitrasi Negara)

Rabu, 06 Juli 2011

sosioantro

1.)    Interaksi sosial dan aksi sosial merupakan dua komponen yang tidak terlepas dalam liku-liku kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari khususnya setiap mnausia pasti akan melakukan suatu interaksi terhadap satu sama lain. Sebab mengingat bahwa manusia merupakan mahluk sosial yang berarti selalu membutuhkan orang lain, dari arti seperti inilah interaksi sosisal ini terjalin. Interaksi sosial merupakan suatu perilaku untuk menjalin hubungan melalui komunikasi antar manusia. Dari interaksi sosial ini tumbuhlah suatu sikap manusia yang ditunjukkan untuk memberikan dampak kepada orang lain. Dalam interaksi sosial terdapat suatu potensi untuk melakukan suatu tipe kepedulian terhadap satu dengan yang lainnya. Dengan menunjukkan tindakan/perilaku yang berdampak terhadap orang lain dapat dikatan sebagai suatu aksi  sosial. Dari aksi sosial dapat diketahui suatu akibat dari interaksi sosial apakah interaksi itu berjalan efektif atau tidak. Disini yang dimaksud adalah apabila melakukan suatu tindakan yang berdampak kepada orang lain, maka interaksi atau komunikasi yang terjalin dapat dikatan sudah efektif sebab sudah bisa menimbulkan sutau kepedulian terhadap orang lain atas interaksi yang terjadi. Cara membedakan dua konsep perilaku ini dapat dikatakan dengan mudah, bahwa interkasi sosial merupakan suatu perilaku yang dilakukan dengan cara berkomunikasi antar individu sedangkan aksi soisal merupakan tindakan yang dilakukan atas interkasi yang terjadi dan memberikan dampak terhadap orang lain.
2.)    Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi mengkaji lebih mendalam pada bidangnya dengan cara bervariasi. Hampir semua gejala sosial yang terjadi di desa maupun di kota baik individu ataupun kelompok, merupakan ruang kajian yang cocok bagi sosiologi, asalkan menggunakan prosedur ilmiah. Ruang lingkup kajian sosiologi lebih luas dari ilmu sosial lainnya. Hal ini dikarenakan ruang lingkup sosiologi mencakup semua interaksi sosial yang berlangsung antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok di lingkugan masyarakat. Ruang lingkup kajian sosiologi tersebut jika dirincikan menjadi beberapa hal, misalnya antara lain:
  • Ekonomi beserta kegiatan usahanya secara prinsipil yang berhubungan dengan produksi, distribusi,dan penggunaan sumber-sumber kekayaan alam;
  • Masalah manajemen yaitu pihak-pihak yang membuat kajian, berkaitan dengan apa yang dialami warganya;
  • Persoalan sejarah yaitu berhubungan dengan catatan kronologis, misalnya usaha kegiatan manusia beserta prestasinya yang tercatat, dan sebagainya.
Sosiologi menggabungkan data dari berbagai ilmu pengetahuan sebagai dasar penelitiannya. Dengan demikian sosiologi dapat dihubungkan dengan kejadian sejarah, sepanjang kejadian itu memberikan keterangan beserta uraian proses berlangsungnya hidup kelompok-kelompok, atau beberapa peristiwa dalam perjalanan sejarah dari kelompok manusia.
Contoh, jika suatu daerah hanya memiliki satu orang yang menganggur, maka pengangguran itu adalah masalah. Masalah individual ini pemecahannya bisa lewat peningkatan keterampilan pribadi. Sementara jika di kota tersebut ada 12 juta penduduk yang menganggur dari 18 juta jiwa yang ada, maka pengangguran tersebut merupakan isu, yang pemecahannya menuntut kajian lebih luas lagi.
3.)    Sosiologi dan antropologi merupakan dua bentuk ilmu sosial yang dikaji dalam kemasyarakatan. Dalam sosiologi dan antropologi meskipun dua bentuk ilmu sosial yang sama namun juga memiliki perbedaan berdasarkan objek dan definisi dari keduanya. Adapun perbedaan antara sosiologi dan antropologi melalui definisi yang ada. Yang pertama yaitu antropologi adalah suatu studi ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya. Kemudian sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain atau umum. Jadi dapat disimpulkan bahwa sosiologi dan antropologi merupakan dua konteks ilmu sosial yang dibedakan melalui studi yang dilakukan oleh keduanya. Dalam antropologi studi ilmu silakukan melalui penelitian langsung atau terjun dan masuk dalam kebudayaan atau perilaku yang diteliti, sedangkan  dalam sosiologi studi ilmu yang dilakukan berdasarkan hasil pemikiran atau berita atau informasi yang didapat saja. Setelah kita ketahui terdapat perbedaan dari sosiologi dan antropologi maka tidak mungkin seluruh hal tersebut hanya memiliki perbedaan saja, pasti terdapat persamaan diantara keduanya pula. Dari definisi diatas dapat kia ketahui pula bahwa objek yang dikaji diantara keduanya yaitu sama. Dalam antropologi mempelajari hal yang mecakup suku bangsa, organisasi, budaya, dll. Sosiologi mempelajari hal yang mencakup terkait kemasyarakatan, suku bangsa, organisasi, keluarga, dll. Dari objek pengkajian keduanya inilah dapat dilihat persamaan antara keduanya.
4.)    a. Modernisasi adalah proses pembangunan yang diberikan oleh perubahan demi kemajuan. Disini yang dimaksud adalah modernisasi membawa dampak yang positif meskipun tidak luput dari aspek negatif yang membawa perubahan untuk kemajuan.
b. Kebudayaan adalah hal-hal yang berkaitan dengan akal dan budi manusia. Yang dimaksud adalah  gagasan atau pikiran manusia, aktivitas manusia, atau karya manusia tidak terlepas dari aspek kehiudpan masyarakat tentunya. Dan hal itulah dapat menjadi suatu budaya apabila secara terus-menerus dilakukan oleh manusia.
c. Westernisasi adalah sebuah arus yang mempunyai jangkauan politik, sosial, ekonomi, dan budaya. Westernisasi sangat berpengaruh terhadap nilai kultur yang ada pada suatu negara atau negara indonesia.
d. Peradaban memiliki berbagai arti dalam kaitannya dengan masyarakat manusia. Istilah ini digunakan untuk merujuk pada suatu masyarakat yang “kompleks”, dicirikan oleh praktik dalam pertanian, hasil karya, dan pemukiman, berbanding dengna budaya lain.
e. Akulturasi adalah percampuran antara 2 budaya tanpa menghilangkan budaya asli setempat.
f. Simpati adalah suatu proses seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain, sehingga mampu merasakan apa yang dialami, dilakuakn, dan diderita orang lain. Perasaan simpati itu bisa juga disampaikan kepada seseorang / kelompok orang atau suatu lembaga formal pada saat –saat khusus. Misalnya apabila perasaan simpati itu timbul dari seorang perjaka terhadap seorang gadis / sebaliknya kelak akan menimbulkan perasaan cinta kasih / kasih sayang.
g. Empati adalah suatu proses ketika seseorang merasakan perasaan orang lain dan menangkap arti perasaan itu, kemudian mengkomunikasikannya dengan kepekaan sedemikian rupa hingga menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh mengerti perasaan orang lain itu. Empati itu dibarengi perasaan organisme tubuh yang sangat dalam. Contoh jika kita melihat orang celaka sampai luka berat dan orang itu kerabat kita, maka perasaan empati menempatkan kita seolah-olah ikut celaka.
8.) Dari pengertian diatas (no.4) kita dapat mengetahui bahwa westernisasi dan modernisasi merupakan 2 arus yaang membawa transformasi terhadap gaya hidup bangsa indonesia menjadi ciri barat. Melihat pada budaya yang saat ini dianut oleh remaja yang justru mulai melunturkan kepribadian dan karakteristik bangsa kita. Pola budaya dalam lingkungan remaja didominasi oleh westernisasi yaitu arus perubahan pada budaya dan terutama gaya hidup yang kebarat-baratan. Gaya hidup kebarat-baratan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang menghilangkan sedikit unsur budaya sendiri. Westernisasi bisa dikatakan memiliki banyak aspek negatif dibandingkan aspek positif. Sebab remaja saat ini lebih mengagungkan budaya barat dibandingkan budaya sendiri. Berbeda dengan modernisasi yang membawa dampak terhadap kemajuan bangsa. Jadi di antara westernisasi dan modernisasai mayoritas dianut oleh remaja yaitu gaya hidup kebarat-baratan (westernisasi). Namun tidak terlepas juga dengna modernisasi yang dibutuhkan dalam menjangkau dunia luar secara cepat dan mudah.;
6.) Gagasan utama Mcdonalisasi adalah rasionalitas formal dan fakta bahwa restoran cepat saji mencerminkan paradigma masa kini dari rasionalitas formal. Bagi Ritzer, rasionalitas formal merupakan komponen kunci dari kehidupan modern. Ritzer belakang ini telah membahas munculnya “alat konsumsi” baru. Selain restoran cepat saji, Ritzer juga meniliti tentang kartu kredit. Jadi dapat disimpulkan bahwa kartu kredit dan alat konsumsi baru merupakan suatu bagian baru dalam kehidupan manusia atau lebih tepatnya dengan keberadaan restoran cepat saji maka manusia telah di-mcdonalisasi dan dengan adanya kartu kredit maka akan menimbulkan dehumanisasi yang berkaitan dengan nonteknologi manusia.
7.) Weber menyatakan, birokrasi itu sistem kekuasaan, di mana pemimpin (superordinat) mempraktekkan kontrol atas bawahan (subordinat). Sistem birokrasi menekankan pada aspek “disiplin.” Sebab itu, Weber juga memasukkan birokrasi sebagai sistem legal-rasional. Legal oleh sebab tunduk pada aturan-aturan tertulis dan dapat disimak oleh siapa pun juga. Rasional artinya dapat dipahami, dipelajari, dan jelas penjelasan sebab-akibatnya.
Khususnya, Weber memperhatikan fenomena kontrol superordinat atas subordinat. Kontrol ini, jika tidak dilakukan pembatasan, berakibat pada akumulasi kekuatan absolut di tangan superordinat. Akibatnya, organisasi tidak lagi berjalan secara rasional melainkan sesuai keinginan pemimpin belaka. Bagi Weber, perlu dilakukan pembatasan atas setiap kekuasaan yang ada di dalam birokrasi, yang meliputi point-point berikut :
1. Kolegialitas. Kolegialitas adalah suatu prinsip pelibatan orang lain dalam pengambilan suatu keputusan. Weber mengakui bahwa dalam birokrasi, satu atasan mengambil satu keputusan sendiri. Namun, prinsip kolegialitas dapat saja diterapkan guna mencegah korupsi kekuasaan.
2. Pemisahan Kekuasaan. Pemisahan kekuasaan berarti pembagian tanggung jawab terhadap fungsi yang sama antara dua badan atau lebih. Misalnya, untuk menyepakati anggaran negara, perlu keputusan bersama antara badan DPR dan Presiden. Pemisahan kekuasaan, menurut Weber, tidaklah stabil tetapi dapat membatasi akumulasi kekuasaan.
3. Administrasi Amatir. Administrasi amatir dibutuhkan tatkala pemerintah tidak mampu membayar orang-orang untuk mengerjakan tugas birokrasi, dapat saja direkrut warganegara yang dapat melaksanakan tugas tersebut. Misalnya, tatkala KPU (birokrasi negara Indonesia) “kerepotan” menghitung surat suara bagi tiap TPS, ibu-ibu rumah tangga diberi kesempatan menghitung dan diberi honor. Tentu saja, pejabat KPU ada yang mendampingi selama pelaksanaan tugas tersebut.
4. Demokrasi Langsung. Demokrasi langsung berguna dalam membuat orang bertanggung jawab kepada suatu majelis. Misalnya, Gubernur Bank Indonesia, meski merupakan prerogatif Presiden guna mengangkatnya, terlebih dahulu harus di-fit and proper-test oleh DPR. Ini berguna agar Gubernur BI yang diangkat merasa bertanggung jawab kepada rakyat secara keseluruhan.
5. Representasi. Representasi didasarkan pengertian seorang pejabat yang diangkat mewakili para pemilihnya. Dalam kinerja birokrasi, partai-partai politik dapat diandalkan dalam mengawasi kinerja pejabat dan staf birokrasi. Ini akibat pengertian tak langsung bahwa anggota DPR dari partai politik mewakili rakyat pemilih mereka.
        Hingga kini, pengertian orang mengenai birokrasi sangat dipengaruhi oleh pandangan-pandangan Max Weber di atas. Dengan modifikasi dan penolakan di sana-sini atas pandangan Weber, analisis birokrasi mereka lakukan. Kritik atas Pandangan Weber mengenai Birokrasi secanggih apapun analisis manusia, ia akan menuai kritik. Demikian pula pandangan Weber akan birokrasi ini. Berikut akan disampaikan sejumlah kritik para ahli akan pandangan Weber : Robert K. Merton. Dalam artikelnya “Bureaucratic Structure and Personality”, Merton mempersoalkan gagasan birokrasi rasional Weber. Bagi Merton, penekanan Weber pada reliabilitas (kehandalan) dan ketepatan akan menimbulkan kegagalan dalam suatu administrasi. Mengapa? Peraturan yang dirancang sebagai alat untuk mencapai tujuan, dapat menjadi tujuan itu sendiri. Selain itu, birokrat yang berkuasa akan membentuk solidaritas kelompok dan kerap menolak perubahan. Jika para pejabat ini dimaksudkan untuk melayani publik, maka norma-norma impersonal yang menuntun tingkah laku mereka dapat menyebabkan konflik dengan individu-individu warganegara. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa Weber tidak pernah secara spesifik membangun sebuah teori birokrasi. Weber hanya mengamati organisasi negara yang dijalankan sebuah dinasti di masa hidupnya. Birokrasi tersebut bercorak patrimonial sehingga tidak efektif di dalam menjalankan kebijakan negara. Sebab itu, Weber membangun pengertian birokrasi sebagai sebuah organisasi yang legal rasional. Weber telah menyebutkan 8 karakteristik yang menjadi ideal typhus dari suatu organisasi yang legal rasional. Karakteristik-karakteristik ini kemudian diterjemahkan sebagai penciriannya atas birokrasi sebagai sebuah organisasi yang lega-rasional.
5.) Gidddens berpendapat bahwa dunia modern mengakibatkan “keterasingan pengalaman” atau proses yang berkaitan dengan penyembunyian yang memisahkan rutinitas kehidupan sehari-hari dari fenomena sehari-hari seperti kegilaan, kriminalitas, penyakit, kematian dan seksualitas. Jadi dapat digambarkan seperti ini, remaja saat ini sangat berbeda dengan remaja pada zaman dahulu. Ketika itu teknologi belum berkembang pesat seperti saat ini. Keterbatasan pengetahuan itu menyebabkan manusia melakukan sesuatu berdasarkan adat atau tata krama yang dianut berdasarkan masing-masing suku bangsa. Untuk melakukan hubungan seksual atau pergaulan bebas mereka pasti akan memikirkan apa akibat dari yang mereka lakukan. Namun sekarang tidak dilihat dari pergaulan bebaslah, kita lihat sopan santun kepada orang yang lebih tua sudah tidak dianut lagi. Disini dapat dilihat bahwa adat yang sudah biasa kita lakukan sebagai nilai kultur telah digeser oleh informasi dan teknologi yang mengatakan bahwa melakukan seks atau bergaul secara bebas dapat dilakuakn dengan sesuka hati dan kehendak hati yang sesuia dikatakan oleh teknologi bahwa semua yang dilakukan memiliki pembenaran. Intinya, hal yang seharusnya tidak kita lakukan namun akibat dari kemajuan teknologi yang sangat pesat maka tindak pribadi yang menjadi ciri khas kita telah hilang atau digeser olehnya.

Minggu, 26 Juni 2011

10 tanda kamu tidak mencintai dirimu sendiri

Banyak orang mempercayai bahwa mencintai diri sendiri adalah tindakan yang egois dan terlalu narsis. Faktanya adalah mencintai dirimu sendiri sama sekali bukanlah suatu tindakan yang egois. Jika kamu tidak menghargai diri sendiri bagaimana kamu bisa menghargai orang lain? Kamu mencintai orang tuamu, kekasihmu, dan teman-temanmu tetapi seberapa besar kamu mencintai dirimu sendiri? Kamu harus tahu bahwa mencintai dirimu sendiri akan memberimu suatu pemahaman bagaimana mencintai orang lain secara tulus. Kamu tentu bisa memahami kekurangan orang lain jika kamu bisa memahami kekuranganmu sendiri, kan? Berikut ini adalah 10 tanda kamu tidak mencintai dirimu sendiri:
1. Membiarkan orang lain memanfaatkanmu
Sadar atau tidak sadar, kebanyakan orang yang bersosialisasi dengan dirimu akan selalu menguji batas dirimu. Ketika kamu tidak memiliki batas yang jelas, mana yang bisa kamu terima dan mana yang tidak, memungkinkan orang lain memanfaatkanmu dengan menguras energi dan bisa jadi, kekayaanmu juga. Semakin sering kamu membiarkan itu terjadi, semakin parah kamu akan dimanfaatkan oleh orang lain. Bersikap tegaslah demi kebaikanmu sendiri.
2. Memberi lebih banyak daripada menerima
Kecuali kamu bekerja sosial atau bekerja di lembaga amal, terlalu banyak memberi dan menerima lebih sedikit dari yang sebenarnya pantas kamu dapatkan menandakan bahwa kamu kurang memiliki penghargaan terhadap diri sendiri. Keadaan ini sering terjadi ketika kamu ingin disukai dan diterima oleh orang lain sehingga kamu akan terus menerus memberi dengan harapan mendapatkan banyak pujian dan orang lain akan tertarik padamu. Lain halnya di dunia kerja, jika ini terjadi, maka itu berarti perusahaan tidak bisa menghargai dirimu.
3. Tidak memikirkan diri sendiri
Tidak memikirkan diri sendiri tampaknya adalah sikap yang tidak egois, lalu mengapa tidak memikirkan diri sendiri termasuk dalam daftar ini? Simpel saja, jika kamu sakit apakah kamu bisa membantu orang lain? Jika kamu tidak merawat dirimu sendiri apakah kamu bisa merawat orang lain dengan efektif? Ambillah contoh ketika kamu naik pesawat terbang, pramugari akan mengajarkan bahwa penumpang harus memakaikan masker oksigen pada dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum memakaikan masker oksigen pada anaknya. Help yourself to help others.
4. Tidak memiliki rencana untuk masa depan
Ini benar-benar menyedihkan jika terjadi. Kamu bingung tentang masa depanmu dan hidupmu dipenuhi oleh kata-kata ”aku tidak tahu”. Ketika ada orang bertanya, Apa cita-citamu? Apa keinginan terbesarmu di masa depan? Kamu ingin bekerja di bidang apa? Jawabanmu adalah ”aku tidak tahu”. Pertama kamu harus mulai mengenal jati dirimu dengan baik, lalu kemudian bermimpi, berencana, bertindak, dan merayakan hasilnya.
5. Tidak menjelaskan terhadap orang lain tentang apa yang kamu inginkan dan butuhkan
Selain sering berkata ”aku tidak tahu” orang yang memiliki tanda ini juga sering berkata ”terserah kamu”. Mungkin kamu berpikir tidak ingin merepotkan orang lain atau tidak ingin menyakiti perasaan orang lain. Namun jika terus menerus kamu memendam keinginanmu, akan timbul rasa frustasi dan kesal dalam dirimu dan miskomunikasi dengan orang lain.
6. Membatasi dirimu
Membatasi disini maksudnya adalah kamu menghalangi dirimu sendiri untuk berkembang. Kamu sudah menilai dirimu tidak bisa melakukan suatu pekerjaan padahal kamu belum pernah benar-benar melakukannya atau kamu merasa kamu tidak pantas mendapatkan orang yang kamu cintai. Pemikiran seperti ini tidak akan membuatmu menjadi manusia yang lebih baik karena kamu tetap hidup dalam zona nyamanmu.
7. Menerima pengaruh yang buruk dari lingkunganmu
Lingkungan biasanya memiliki pengaruh yang besar pada perkembangan diri seseorang. Tetapi manusia yang bisa berpikir secara dewasa bisa membedakan mana pengaruh yang baik dan mana yang buruk. Menerima pengaruh yang buruk sama saja seperti tidak mencintai diri sendiri karena kamu melakukan suatu hal yang akan merugikan dirimu sendiri di masa mendatang.
8. Membiarkan orang lain mengatur hidupmu
Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang merdeka. Mereka memiliki tubuh, jiwa, dan pikiran masing-masing. Sayangnya, banyak manusia hidup menjadi boneka yang dikendalikan oleh orang lain. Mereka selalu melakukan apa pun yang diperintahkan orang lain, baik atau buruk. Biasanya si pengatur adalah orang yang memiliki kedudukan tinggi atau bisa jadi, orang yang mereka cintai. Dasarnya adalah rasa takut. Takut kehilangan kedudukan atau orang yang mereka cintai. Jika kamu termasuk orang seperti ini, ketahuilah bahwa kamu adalah manusia modern, kamu tidak hidup di zaman ratusan tahun yang lalu, kamu berhak untuk mendapatkan kebebasan mengatur hidupmu sendiri.
9. Tidak berusaha memperbaiki kekuranganmu
Kamu mengetahui kekuranganmu tetapi kamu tidak berusaha untuk memperbaikinya. Kebiasaan dan tingkah laku yang buruk adalah sesuatu yang bisa kamu perbaiki ketika kamu sudah menyadarinya. Jangan selalu memakai alasan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Memang selalu akan ada kekurangan, tidak peduli seberapa keras kamu berusaha. Namun memang itulah tujuan manusia hidup, untuk terus belajar. Live from zero to hero and die still as a hero.
10. Membenci kekurangan dan mengabaikan kelebihan dirimu
Manusia yang selalu menghabiskan waktu untuk mengeluh dan komplain mengenai kekurangannya, akan gagal melihat kelebihan yang sebenarnya ada pada dirinya. Bayangkan saja apabila Stevie Wonder dan Andrea Bocelli yang buta, Nick Vujicic yang tidak memiliki tangan dan kaki, atau Stephen Hawking yang syaraf motoriknya tidak berfungsi dengan baik, terus menerus meratapi cacat tubuhnya, apa mereka bisa menjadi figur-figur yang sukses? Tuhan itu adil, Ia tidak akan menciptakan manusia yang tidak bisa melakukan apapun. Manusia pasti memiliki jalan kesuksesannya masing-masing. Sekarang semuanya tergantung dirimu sendiri, sudahkah kamu berhenti mengeluh dan mencoba mengembangkan kelebihanmu?

Modernisasi

Berikut ini adalah beberapa pengertian modernisasi dari beberapa pakar
Wilbert E Moore, modernisasi adalah suatu transformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pra modern dalam arti teknologi serta organisasi social kea rah pola-pola ekonomis dan politis yang menjadi cirri Negara barat yang stabil.


  1. J. W. Schoorl, modernisasi masyarakat adalah sebagai suatu proses transformasi (peralihan), suatu perubahan masyarakat dalam segala aspek-aspeknya (aspek ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lain-lain).
  2. Arbit Sanit, mengatakan bahwa modernisasi sebagai proses perubahan kehidupan individu dari cirinya yang tradisional kepada ciri yang modern.
  3. Soerjono Soekanto, mengatakan bahwa modernisais ialah suatu bentuk perubahan sosial yang biasanya merupakan perubahan sosial yang terarah (directed change) yang didasarkan pada suatu perencanaan, yang biasanya dinamakan social planning.
  4. Ph. Astrid S Susanto, mengatakan bahwa modernisasi merupakan suatu perubahan menyeluruh dari masyarakat dalam keadaan tradisional maupun suatu masyarakat maju.
  5. Wibert E. Moore, modernisasi adalah suatu transformasi total kehidupan bersama dalam bidang teknologi dan organisasi sosial dari yang tradisional kea rah pola-pola ekonomis dan politis yang didahului oleh negara-negara Barat yang telah stabil.
  6. Koentjaraningrat, modernisasi adalah usaha untuk hidup sesuai dengan zaman dan keadaan dunia sekarang.
  7. Ogburn dan Nimkoff, modernisasi adalah suatu usaha untuk mengarahkan masyarakat agar dapat memproyeksikan diri ke masa depan yang nyata dan bukan pada angan-angan semu.
Menurut Alex Inkeles, ciri-ciri manusia modern adalah sebagai berikut.
  1. Memiliki sikap hidup untuk menerima hal-hal yang baru dan terbuka untuk perubahan.
  2. Memiliki keberanian untuk menyatakan pendapat atau opini mengenai lingkungannya sendiri atau kejadian yang terjadi  jauh di luar lingkungannya serta dapat bersikap demokratis.
  3. Menghargai waktu dan lebih banyak beorientasi ke masa depan daripada masa lalu.
  4. Memiliki perencanaan dan pengorganisasian.
  5. Percaya diri.
  6. Perhitungan.
  7. Menghargai harkat hidup manusia lain.
  8. Percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
  9. Menjunjung tinggi suatu sikap di mana imbalan yang diterima seseorang haruslah sesuai dengan prestasinya dalam masyarakat.
Menurut Soerjono Soekanto, syarat-syarat modernisasi adalah sebagai berikut.
  1. Cara berpikir ilmiah (scientific thinking) yang sudah melembaga dan tertanam kuat dalam kalangan pemerintah maupun masyarakat luas.
  2. Sistem administrasi negara yang baik dan benar-benar mewujudkan birokrasi.
  3. Sistem pengumpulan data yang baik, teratur, dan terpusat pada suatu lembaga atau badan tertentu seperti BPS (Biro Pusat Statistik).
  4. Penciptaan iklim yang menyenangkan (favourable) terhadap modernisasi terutama media massa.
  5. Tingkat organisasi yang tinggi, terutama disiplin diri.
  6. Sentarlisasi wewenang dalam perencanaan sosial (social planning) yang tidak memtingkan kepentingan pribadi atau golongan.
Gejala-gejala modernisasi:
  1. Bidang budaya, ditandai dengan semakin terdesaknya budaya tradisional oleh masuknya pengaruh budaya dari luar sehingga budaya asli semakin pudar.
  2. Bidang politik, ditandai dengan semakin banyaknya negara yang lepas dari penjajahan, munculnya negara-negara yang baru merdeka, tumbuhnya negara-negara demokrasi, lahirnya lembaga-lembaga politik, dan semakin diakuinya hak-hak asasi manusia.
  3. Bidang ekonomi, ditandai dengan semakin kompleksnya kebutuhan manusia akan barang-barang dan jasa sehingga sektor industri dibangun secara besar-besaran untuk memproduksi barang. Dengan demikian, kita akan semakin mudah untuk memperoleh barang dan jasa.
  4. Bidang sosial, ditandai dengan semakin banyaknya kelompok baru dalam masyarakat, seperti kelasa menengah dan kelas atas.
Bagi bangsa yang sedang melakukan pembangunan akan muncul dampak positif dan negatif terhadap modernisasi:
  1. Konsumerisme adalah gerakan yang melindungi para konsumen dari produk-produk yang merugikan.
  2. Etos kerja adalah sikap seseorang dalam mengahadapi kenyataan yang ada.
  3. Kesenjangan sosial ekonomi merupakan perbedaan tingkat kesenjangan dan kemakmuran dalam suatu masyarakat.
  4. Pencemaran lingkungan alam.
  5. Kriminalitas yaitu suatu bentuk pelanggaran terhadap norma hukum, khususnya yang menyangkut pidana dan perdata yang pada dasarnya merupakan tindakan yang merugikan orang lain.
  6. Kenakalan remaja.
Sumber:
Maryati, Kun dan Juju Suryawati. 2001. Sosiologi. Jakarta: ESIS

Kamis, 23 Juni 2011

kebiasaan yang membuat cepat tua

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa merokok dan minuman beralkohol berefek negatif bagi kesehatan.
Namun tidak banyak orang mengetahui apa saja hal-hal yang tampaknya sepele namun berdampak besar terhadap kesehatan. Berikut ini beberapa jenis kebiasaan yang membuat tubuh tampak lebih tua tanpa kita sadari.
1. Melihat dengan menyipitkan mata
Seringkali kita mengamati sesuatu yang menarik dengan berjinjit dan menyipitkan mata. Sebenarnya, kebiasaan ini menjadikan kerutan di sekitar mata semakin jelas.
Untuk meningkatkan elatisitas kulit sekitar mata, gunakan krim kolagen, lalu urut daerah sekitar mata dengan arah kanan-kiri dan atas-bawah. Lakukan beberapa kali sehari. Pastikan juga Anda memakai kacamata hitam saat berada di luar ruangan atau pakailah kacamata jika memiliki gangguan penglihatan.
2. Memakai bodi scrub
Secara rutin kita memang harus membuang sel-sel kulit mati agar kulit terlihat lebih bercahaya. Tetapi jangan menggosok tubuh terlalu keras atau terlalu sering. Luluran dengan scrub lebih dari sekali dalam seminggu, bisa menyebabkan kerusakan lapisan kulit dan melemahkan fungsi alami kulit sebagai pelindung. Terlalu keras dan terlalu sering melulur tubuh, juga bisa menimbulkan luka dan infeksi jaringan kulit. Pada akhirnya, kulit akan rentan terhadap proses penuaan.
Bagi pemilik kulit sensitif atau alergi, hindari lulur berbahan buah dan gel. Setelah melulur tubuh, jangan lupa gunakan pelembab. Produk yang mengandung minyak zaitun dan lidah buaya sangat dianjurkan bagi kulit kering. Bagi kulit berminyak, gunakan produk bebas minyak, atau produk dengan kandungan asam hyaluronic yang cocok untuk kulit berminyak.
3. Minum menggunakan sedotan
Walaupun terlihat seksi, minum menggunakan sedotan tidak baik bagi kesehatan kulit. Gesekan antara kulit bibir dengan sedotan menimbulkan kerutan di sekitar mulut yang sangat sukar dihilangkan saat facial atau pengencangan.
4. Merokok
Menyelipkan rokok di sela-sela bibir bisa menimbulkan kerutan pada bibir. Para perokok biasanya akan terlihat lebih tua daripada orang yang tidak merokok, bukan hanya karena penuaan kulit, tetapi akibat kerutan sehingga menimbulkan efek menua.
5. Postur tubuh
Selain menjaga kesehatan kulit, penampilan kita juga sangat dipengaruhi postur tubuh. Punggung yang bungkuk, bahu yang jatuh dan dada yang turun akan membuat gadis 20 tahun terlihat sangat tidak menarik.
6. Kebiasaan mengunyah
Kebiasaan mengunyah permen karet atau makanan ringan bukan hanya berbahaya pada luka lambung, tetapi juga menyebabkan kerutan dan penyempitan pembuluh darah. Akibatnya, tekanan darah akan meningkat dan adanya penonjolan pembuluh darah.
Apabila ingin mengunyah permen karet, lebih baik mencoba meditasi berikut. Coba rileks dan duduk nyaman, lalu letakkan tangan di lutut dengan telapak terbuka. Tarik napas panjang lewat hidung lalu keluarkan melalui mulut, lakukan berulang-ulang.

 

Selasa, 21 Juni 2011

cara mengilangkan kegelisahan

Rasa cemas, gelisah, khawatir bisa terjadi kapan saja, pada siapapun. Namun pada sejumlah orang, perasaan negatif ini begitu menguasai diri. Terutama saat berada dalam kondisi tertekan atau perasaan tak nyaman, apapun itu penyebabnya.
Kegelisahan terkadang berdampak ke fisik, ditandai dengan rasa mual, pusing, telinga berdengung hingga sesak nafas. Jangan terus menerus bergantung pada obat untuk mendapatkan perasaan tenang. Anda perlu melawan kecemasan, kegelisahan, kekhawatiran dengan self-hypnosis.
Hypnoterapis berpengalaman 20 tahun, Valorie J Wells, PhD, menyarankan lima tahapan menghipnosis diri sendiri sebagai bentuk penyembuhan dari dalam diri, mengatasi kegelisahan.
1. Matikan semua alat komunikasi seperti ponsel, pemutar musik, komputer, laptop, benda elektronik apapun.
2. Duduk dengan nyaman di kursi, gunakan bantal, cobalah untuk relaks.
3. Tutup mata Anda perlahan-lahan, gunakan imajinasi Anda.
Bayangkan ada minyak pijatan keemasan yang lembut membaluri tubuh Anda dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jika cuaca saat itu panas, bayangkan aliran minyak pijatan ini memberikan sensasi rasa dingin yang menenangkan.
4. Masih dengan mata tertutup, bayangkan sebuah papan tulis berwarna hitam.
Lalu bayangkan, Anda sedang mengambil kapur putih, atau pilih warna kapur sesuka hati, dan sebuah penghapus. Lalu mulailah menulis angka di papan tulis yang Anda bayangkan tadi. Mulailah menulis angka dari 100. Tulis angka ini dalam ukuran besar.
Setelah menulis angka 100 berukuran besar, hapus. Tenangkan pikiran Anda, rileks, dan lanjutkan menulis satu angka di bawahnya. Berapa lama Anda melakukan tahapan ini, tergantung dari level stres pada saat itu.
5. Setelah Anda merasa lebih rileks dan nyaman dengan diri sendiri, Anda akan melihat sebuah pintu berwarna putih yang elegan. Pintu ini muncul di depan mata Anda. Bergeraklah maju dan buka pintu tersebut. Di balik pintu itu, Anda akan menemukan pemandangan yang indah, tempat yang Anda sukai. Boleh jadi tempat itu adalah pantai yang indah dengan pasir putih yang lembut dan desiran ombak. Atau bisa jadi, tempat itu adalah taman penuh tanaman hijau yang menyejukkan, dengan pepohonan teduh.
Ijinkan diri Anda memasuki tempat itu, merasakan ketenangan dan kenyamanan di dalamnya. Gunakan alam bawah sadar Anda untuk memandu pikiran Anda menikmati keindahan alam ini. Gunakan sensor dan stimulan visual dari tubuh Anda. Rasakan kehangatan sinar matahari di pantai, atau aroma segar bunga dan tanaman di taman.
Inilah kekuatan Anda. Anda bisa menciptakan ruang di dalam diri, tempat Anda menjauhkan diri dari segala bentuk kegelisahan. Kapan pun Anda merasa panik, tegang, cemas, gelisah, ciptakan kembali ruang ketenangan ini. Anda lah yang mampu mengambil alih kekuatan dari dalam diri, yang terletak pada kekuatan pikiran Anda.